Lima WNI di Kumamoto Jepang Dievakuasi ke Tokyo

Lima WNI di Kumamoto Jepang Dievakuasi ke Tokyo
Lima warga Indonesia yang berada di Kumamoto dievakuasi dan tiba di Tokyo, Rabu (20/4/2016) malam dengan biaya Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo.
"Lima warga Indonesia yang di Kumamoto tempat bencana itu telah dievakuasi ke Tokyo dan tiba kemarin malam, dengan biaya keseluruhan dari KBRI dari dana perlindungan WNI dalam keadaan darurat," kata Ricky Suhendar, Atase Penerangan KBRI khusus kepada Tribunnews.com, Kamis (21/4/2016).
Lima korban gempa Kumamoto yang dievakuasi siang kemarin telah tiba Tokyo, Rabu (20/04/16) pukul 23.35 waktu setempat.
"Mereka disambut langsung oleh Duta Besar RI untuk Jepang,Yusron Ihza Mahendra beserta staf di loby KBRI Tokyo. Kelima korban yang dievakuasi ini dalam keadaan sehat, walaupun kelelahan akibat situasi di daerah gempa dan perjalanan jauhKumamoto-Tokyo tampak di wajah mereka," tambahnya.
Selain ke Tokyo mereka juga ditampung di penginapan oleh KBRI.
"Kami telah menyiapkan tempat penampungan sementara bagi kawan-kawan yang dievakuasi ke Tokyo ini. Lokasinya berdekatan dengan KBRI Tokyo guna memudahkan penanganan," ujar Yusron kepada para mahasiswa yang baru tiba itu.
Sebelum melakukan evakuasi, KBRI Tokyo melakukan diskusi bersama dengan PPI Kumamoto, PPI Fukuoka, PPI Hiroshima, Komunitas Masjid Kumamoto dan Komunitas Masjid Hiroshima. Akhirnya disepakati bahwa tujuan evakuasai akan meliputi Hiroshima, Fukuoka, dan Tokyo.
Di luar tujuan tersebut, ada pula sejumlah mahasiswa memutuskan untuk pulang sementara ke Indonesia.
Opsi evakuasi diambil setelah mempertimbangkan situasiKumamoto yang masih berisiko diguncang gempa susulan. 
Selain itu, evakuasi juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya trauma yang lebih dalam.
Adanya rencana pemerintah Jepang untuk menutup shelter-shelter pengungsian di Kumamoto, tentu menjadi pemicu penting bagi ditempuhnya opsi evakuasi itu.
Kelima warga atau mahasiswa Indonesia yang memilih evakuasi ke Tokyo adalah Dita Primaoktasa, Fatin Adriati, Muhammad Fikri Ramadhana, Bondan Suwandi, dan Harry Susanto.
Para korban gempa dalam pertemuan dengan Duta Besar beserta staf KBRI Tokyo, menyampaikan apresiasi atas kesigapan berbagai pihak dalam menangani warganya dalam keadaan darurat.
Trauma akibat gempa belum reda dan masih menghantui, namun evakuasi diharapkan akan membantu menenangkan mental dan pikiran.
Selain warga atau mahasiswa Indonesia yang telah dievakuasi tersebut, ada pula sejumlah mahasiswa ataupun warga Indonesia memilih bertahan di Kumamoto.
Sebagian mereka bermaksud untuk bersama-sama dengan tim membantu warga lainnya sembari memantau perkembangan situasi.
Tentang penutupan sheter-shelter pengungsian, info terakhir menyebutkan bahwa Pemerintah Jepang tak jadi menutup shelter-shelter tersebut.
Hal ini terutama karena pemerintah Jepang masih belum mengizinkan warga (WNI maupun WN Jepang) pulang ke tempat tinggal masing-masing sebelum adanya assessment terhadap layak tidaknya bangunan mereka untuk dihuni.
Editor: Dewi Agustina