'Biaya' Melamun Paling Mahal di Dunia, Pemuda di Cilacap Ini Harus Bayar Rp 1,6 Juta

'Biaya' Melamun Paling Mahal di Dunia, Pemuda di Cilacap Ini Harus Bayar Rp 1,6 Juta

CILACAP - Pernah mendengar kisah seseorang yang harus bayar mahal saat melakukan hal sepele?
Hal ini sungguh-sungguh terjadi.
Seorang pemuda ini hanya melamun, namun ia harus merogoh kocek hingga Rp 1,6 juta.
Pemuda ini tak sembarang melamun, ia melamun sambil naik motor dan fatal akibatnya.
Untung insiden ini tak mengakibatkan jatuh korban.


Kisah ini berawal dari seorang pengendara sepeda motor yang menabrak palang pintu perlintasan kereta api di dekat Stasiun Jeruklegi, Kabupaten Cilacap,  Jawa Tengah, Senin (10/10/2016).

Kenapa pemuda tersebut bisa menabrak?
Ternyata jawabannya mengejutkan, pemuda tersebut melamun dan kaget ketika berada di perlintasan palang kereta api.

Pemimpin Perjalanan Kereta Api (PPKA) Stasiun Jeruklegi, Sungkowo, melalui rilisnya menjelaskan peristiwa ini terjadi pada pukul 12.17 WIB.
Berawal saat pengendara sepeda motor bernama Sugeng Adia Restu (20) beserta sang ayah, Soderi (47) melintas di pintu perlintasan KA tersebut.
"Mereka berboncengan, kemudian saat hendak melintas perlintasan KA, Adia yang mengendarai sepeda motor mengaku melamun," kata Sungkowo.

Ketika pintu dalam kondisi separuh akan menutup, lanjutnya, pengendara tersebut kaget dan justru memutuskan untuk mempercepat laju kendaraan.
Hal itu dilakukan agar terhindar dari antrean di pintu perlintasan KA.

Namun, laju sepeda motornya tidak bisa mendahului kecepatan pintu perlintasan yang menutup.
Kemudian, suara keras terdengar, mereka menabrak palang pintu bagian pangkal.
Ayah dan anak tersebut merupakan warga RT 005 RW 003 Dusun Igir Tugel, Desa Kertajaya, Kecamatan Gandrungmangu, Cilacap.

"Mereka baru pulang dari rumah sakit menjenguk saudara. Setelah menabrak palang pintu, mereka hendak kabur, namun dicegah warga dan petugas," tambah Manajer Humas PT KAI (Persero) DAOP 5 Purwokerto, Ixfan Hendriwintoko.

Beruntungnya, saat itu, KA belum melintas. Petugas pintu perlintasan pun segera menghubungi Stasiun Jeruklegi.
Menurutnya, ayah dan anak tersebut mau bertanggungjawab dan mengganti kerugian yang dialami PT KAI.

Ixfan mengaku pihaknya mengalami kerugian sebesar Rp 1,6 juta sesuai harga palang kayu satu setnya.

KA Lodaya juga mengalami dampaknya. KA ini mengalami keterlambatan.
"Saat ada kerusakan palang pintu, lampu otomatis tidak menyala hijau. Kereta pun tidak akan jalan," imbuhnya.
Ixfan menuturkan agar pengguna jalan raya mematuhi aturan di jalan raya sesuai Pasal 124 Undang Undang No 23 tahun 2007 tentang Perkeretaapian. Yakni, agar para pengguna jalan wajib mendahulukan perjalanan kereta api. sumber: tribunnews.com