Kemesraan pasangan terpendek di dunia ini menginspirasi banyak orang

Kemesraan pasangan terpendek di dunia ini menginspirasi banyak orang

Cinta memang datang tanpa syarat. Pasangan asal Brasil ini membuktikan jika fisik bukan satu-satunya kunci untuk meraih kebahagiaan. Bahkan dengan kekurangan fisik, mereka membuktikan bisa hidup bahagia seperti kebanyakan orang.

Adalah Paulo Gabriel da Silva Barros (30) dan Katyucia Hoshino (26) yang punya tinggi badan kurang dari 90 cm. Paulo memiliki tinggi badan 88,3 cm, sedangkan Katyucia mempunyai tinggi badan 89,4 cm. 
Mereka dipertemukan berkat media sosial MSN Messenger sepuluh tahun lalu dan telah hidup menjadi sepasang suami-istri lebih dari 8 tahun.

Paulo memiliki kondisi genetik langka yang disebut diastrophic dysplasia dwarfism atau terhambatnya perkembangan tubuh. Sedangkan Katyucia sendiri menderita achondroplasia dwarfisme yang menghambat pertumbuhan tulang.

Saat awal kenal, Katyucia merasa Paulo sebagai sosok yang menjengkelkan hingga ia memutuskan memblokir status pertemanan di situs instant messaging itu. Tapi tak disangka, Katyucia membuka blokir 18 bulan kemudian. Dari situ akhirnya mereka kenal lebih lanjut.

Dua bulan kenal, akhirnya Paulo mengunjungi rumah Katyucia dari kediamannya di Itapeva ke Londrina yang jaraknya hampir 300 km. Saat itulah ia benar-benar terpesona dengan Katyucia.

"Dia mengenakan kemeja oranye, celana jeans, dan kaca mata hitam. Selain manis, dia juga punya kepribadian yang baik," kata Paulo seperti dikutip brilio.net dari Daily Mail, Sabtu (11/6).

Paulo mengaku jika mereka sejatinya hidup seperti pasangan lainnya. Paulo bekerja sebagai sekretaris hukum, sedangkan Katyucia mengelola salon kecantikan miliknya sendiri. 

Untuk aktivitasnya, mereka menggunakan mobil yang kursinya telah dimodifikasi. Segala peralatan di salon kecantikan Katyucia juga telah dimodifikasi sesuai tinggi badannya.

"Pada dasarnya kami adalah pasangan normal, tetapi tinggi kami yang berbeda saja," kata Paulo.

Paulo mengaku, meskipun hidup bahagia dan nyaman, mereka tetap merasakan kesulitan ketika sedang di ruang publik. Mereka sangat kesulitan ketika mengambil uang di ATM, pergi ke kamar mandi umum, meraih barang di buffet, memakai wastafel dan mesin cuci.

Pasangan yang berharap mendapatkan Guinness Book of World Records ini mengaku sudah terbiasa mendapat perlakuan diskriminasi. Tak hanya itu mereka sudah terbiasa menjadi perhatian ketika berada di ruang publik. Bahkan tak sedikit pula yang menertawakan keberadaan mereka.

Tentu menjadi harapan bagi mereka untuk mempunyai momongan. Tapi kondisi ukuran rahim Katyucia yang kecil akan membahayakannya. Meski begitu, mereka tetap tetap bersama, entah memiliki anak atau tidak. sumber: brilio.net